Terlihat anak muda yang tertunduk berjalan menuju rumahnya. Gesturnya terlihat lemas seperti belum melahap nasi selama tiga hari. Dia pun masuk ke rumahnya. Ibu dari anak tersebut pun langsung menoleh dan meminta kepadanya untuk membelikan susu untuk adiknya. Tapi wajah yang tadinya cerah pun redup ketika sang Ibu mendengarkan kejadian yang baru saja dialami anaknya. Terlihat raut wajah kegelisahan dari sang Ibu. Langkahnya pun lemas, begitu tak bersemangat dalam melanjutkan untuk menata pakaian anaknya.
Rasa penasaran akan kejadian yang dialami anaknya pun menggebu-gebu. Tak berapa lama kemudian sang Ibu pun bertanya lagi kepada anaknya, "Memangnya kamu taruh dimana tadi? Bawa gak? Atau ketinggalan kali di rumah?". "Enggak mak, tadi hape-nya emang Doni bawa. Tadi pas nagihin prelek terus mainin hapenya, naro sembarangan dan lupa buat ngambil lagi", jawab Doni sambil tertunduk. "Mama cuma takut bapak marah nanti, nanti kan kalo ada apa-apa repot juga. Nanti ujung-ujungnya mama yang disalahin!", ucap sang Ibu sambil agak membentak. Doni pun kembali tertunduk dan berkata "Maaf ma."
Ya ini memang sudah yang kedua kalinya Doni kehilangan telepon genggamnya dalam kurun waktu dua minggu. Terlihat dia sangat menyesali perbuatannya tersebut. Keteledoran yang sering dialaminya membuat dia frustasi. Mulai dari kunci motor, gantungan kunci, sampai celana pun pernah hilang karena sifat pelupanya. "Gua harus ngedapetin uang dalam kurun waktu sebulan buat bayar kesalahan gua. Gua janji kali ini bakal bikin mama tersenyum", pikir Doni dengan wajah yang agak suram sumringah.
Kini sang Ibu pun masih terlihat agak kesal karena kelakuan anaknya. Beliau masih menunggu hingga anaknya benar-benar berubah dan lebih dewasa dalam memegang amanat yang diberikan kepadanya.
Minggu, 23 September 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar